“Hendaklah setiap diri memperhatikan (melakukan introspeksi) tentang apa-apa yang telah diperbuatnya untuk menghadapi hari esok (alam akhirat),”.(QS Al Hasyr:18).

SETIAP tanggal 1 Muharram umat Islam di seluruh dunia memperingati tahu baru Hijriyah, yaitu awal tahun penanggalan Islam. Hijrah sebagai peristiwa monumental dalam sejarah Islam dijadikan momentum awal perhitungan Tahun Hijriyah.
Munculnya gagasan menjadikan “hijrah” sebagai permulaan tahun Islam muncul di zaman pemerintahan khalifah Umar bin Khathab ra. Hal ini didasarkan atas pertimbangan perlunya menentukan perhitungan tahun Islam secara mandiri. Gagasan dilontarkan oleh Ali bin Abi Thalib ra yang kemudian disepakati para sahabat.

Kemudian Khalifah Umar pun menetapkan hijrah sebagai permulaan tahun Islam. Ia menjadikan penanggalan itu sebagai jaman baru pengembangan Islam, karena penanggalan itu mengandung makna spiritual dan nilai historis yang amat tinggi harganya bagi agama dan umat Islam, yaitu saat umat Islam meninggalkan Makkah menuju Yatsrib (Madinah). Hitungan tahun hijriah didasarkan pada perhitungan awal pemunculan cahaya bulan atau Qomariyah, hitungannya dimulai saat terbenamnya matahari pada akhir hari sebelum 1 Muharam.

Nama-nama bulan dalam satu tahun antara lain: Muharam (bulan yang disucikan), Safar (bulan yang dikosongkan), Rabial-Awwal (musim semi pertama), Jumad Al-Sani (musim semi kedua), Rajab (bulan pujian), Syaban (bulan pembagian), Ramadhan (bulan yang amat panas), Syawal (bulan berburu), Zul- Qaidah (bulan beristirahat), dan Zul Hijjah (bulan ziarah).

Sistem penanggalan Islam itu tidak mengambil nama ‘Tahun Muhammad’ atau ‘Tahun Umar’. Artinya, tidak mengandung unsur pemujaan seseorang atau penonjolan personifikasi, tetapi diambil dari peristiwa yang menjadi titik balik sejarah perjuangan pada masa awal penyebaran agama Islam.

Hijrah dalam bahasa arab biasa dimaknai dengan “berpindah dari suatu ke tempat lain” atau “meninggalkan suatu perbuatan”, dapat di pahami menjadi hijrah lahiriyah dan hijrah maknawiyah.

Pertama, hijrah lahiriyah bermakna pindah dari suatu tempat ke tempat yang lebih baik, untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik dunia dan akhirat. Kedua, hijrah maknawi. Yaitu meninggalkan suatu perbuatan yang dilarang Allah Swt, sebagaimana dikuatkan oleh sebuah hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Imam Bukhari.

Orang yang berhijrah itu ialah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah SWT.
Hijrah maknawiyah ini merupakan kewajiban setiap orang beriman kapan dan di mana saja ia berada.
Selain Umar, orang yang berjasa dalam penanggalan Tahun Hijriyah adalah Ali bin Abi Thalib. Dialah yang mencetuskan pemikiran agar penanggalan Islam dimulai penghitungannya

Hijrah merupakan strategi yang hendak dicapai menuju kehidupan yang lebih baik. Hijrah adalah momentum perjalanan dan perjuangan menuju cita-cita luhur membentuk tatanan masyarakat madani, yang diawali dengan eratnya jalinan solidaritas sesama muslim (ukhuwah Islamiyah) antara kaum Muhajirin dan kaum Anshar, dan pada akhirnya melebur dalam suatu entitas masyarakat yang pluralis lintas agama dan hidup berdampingan dengan harmonis.

Dari situlah mengapa konsep dan hikmah hijrah perlu dikaji ulang dan diamalkan oleh umat beragama dan masyarakat. Setiap pergantian waktu, hari demi hari hingga tahun demi tahun, biasanya memunculkan harapan baru akan keadaan yang lebih baik, hari-hari yang kita lalui hendaknya selalu lebih baik dari hari-hari sebelumnya.
Dengan kata lain, peristiwa hijrah mengajarkan kita agar menjadi lebih baik dari hari ke hari. Hadist Rasulullah yang sangat populer menyatakan, “Barangsiapa yang hari ini lebih baik dari kemarin, adalah orang yang beruntung. Bila hari ini sama dengan kemarin, berarti orang merugi, dan jika hari ini lebih jelek dari kemarin, adalah orang celaka”.

Pada awal tahun baru hijriyah ini, kita bisa merancang hidup agar lebih baik dengan hijrah, yakni mengubah perilaku buruk menjadi baik.

Menurut Quraish Shihab, salah satu renungan itu adalah merefleksikan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW. Hijrahnya Nabi SAW adalah bentuk optimisme dan hijrah mengandung nilai dan peradaban. Ketika Nabi SAW hijrah menuju kota yang disebut Yastrib, jelasnya, beliau lantas merubah nama kotanya menjadi Madinah, disitulah Nabi memulai sebuah peradaban baru dan nilai-nilai baru yang ditanamkan, yang kini populer kita kenal sebagai masyarakat madani.

Sikap optimisme yang ditunjukkan Nabi SAW penting untuk dijadikan pembelajaran ketika kita menghadapi krisis seperti yang terjadi saat ini. Disamping itu, kebersamaan juga merupakan salah satu kunci keberhasilan mencapai perubahan.

Hal itu dibuktikan Nabi SAW yang saat itu bersama Abu Bakar sedang dikejar-kejar kaum Qurais, lantas bersembunyi di dalam gua. kemudian, Abu Bakar merasa khawatir terhadap keselamatan Nabi, dan Nabi mengatakan,” Wahai, Abu Bakar janganlah takut karena Allah bersama kita.”

Berbeda ketika zaman Nabi Musa AS, yang saat itu juga sedang melaksanakan hijrah. Pada suatu saat dimana kaum Firaun mengejar-ngejar beliau dan kaumnya, Nabi Musa pun berkata,” Wahai kaumku, janganlah takut karena Tuhan Bersamaku.”. Itulah bentuk kebersamaan yang diajarkan Rasulullah terhadap umatnya dalam peristiwa hijrah.

Selain itu, hijrah juga mengajarkan kepada kita tentang perlunya perencanaan yang matang, kerja keras dan kebersamaan untuk mencapai sebuah tujuan. Sebagaimana yang telah dilakukan kaum muslimin ketika hijrah ke madinah.

Peristiwa hijrah Rasulullah memang telah berlalu selama 1431 tahun. Tetapi makna dan spirit hijrah harus tetap tertanam dalam hati dan jiwa kaum muslimin. Kaum muslimin harus “berhijrah” dengan meninggalkan apa-apa yang dilarang oleh Allah menuju kepada ketaatan kepada Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:”Orang yang berhijrah adalah yang (meninggalkan) apa-apa yang dilarang oleh Allah SWT”. (HR Bukhori).
Tahun Baru Hijriah segera menjelang, akankah berlalu begitu saja?


Sumber: http://www.sarahsmart.co.cc/hikmah-hijrah-hikmah-1-muharram/